Bayi (Bayangan Hati)

June 30, 2010

Goresan Senyum

Hari ini aku mendapat jatah pekerjaan yang sangat banyak. Ketika temen-temen kantor asyik menikmati liburan panjang bersama keluarga mereka, aku malah harus lembur. Bersiap dengan tumpukan kertas yang menjemukan. Tapi tak apalah. Lagian aku masih bujangan. Kata bang haji Rhoma Irama, memang tak enak menjadi bujangan. Dimana-mana tidur sendirian. Inilah resiko pekerjaan. Di usiaku yang hampir menjelang 25 ini aku masih menikmati kesendirianku. Temen-temen sebaya sudah banyak yang menggendong anak. Saat pulang ke rumah pasti ada yang menyambut dengan senyum yang luar biasa menentramkan hati.

Semua tahu kalau ini tanggal merah. Saat yang tepat untuk melepas lelah. Tapi pekerjaanku sebagai editor di penerbit ini harus dikerjakan dengan matang. Kalau tidak, bagaimana nasib buku-buku bagus ini. Merelakan sejenak gemerlap kota Jogja dan menggantinya dengan segelas kopi di meja kerja.

Masih banyak yang harus diedit. Deadline minggu depan. Ini bukan masalah kejar setoran tapi ini tanggung jawab. Mereka sudah mempercayakan sepenuhnya kepadaku. Tak masalah. Pasti bisa segera ku selesaikan.

Ini sudah hampir jam 3 dini hari. Hanya ada aku dan satpam. Satpam di luar aku di dalam. Ponselku berdering. Agak mengagetkanku. Kulihat ada satu pesan masuk.

“tahajjud dl” seperti itu bunyi pesannya.

Aku tak tahu ini nomer milik siapa. Tak kubalas. Langsung aku menuju kamar mandi. Ku ambil air wudhu. Basuhan pertama di mukaku mengembalikan energiku yang sempat terkuras tadi. Segar sekali rasanya. Rasa ngantuk sedikit terobati. Sesaat sebelum aku sholat, kulihat pak satpam sudah tertidur pulas di posnya. Sekarang hanya aku sendirian. Sholatlah aku.

Selesai. Aku melanjutkan tugasku. Agak heran memang ketika melihat tulisan para penulis pemula. Secara teknis mereka lebih baik daripada penulis yang sudah ‘jadi’. Lebih mudah editingnya. Tanda baca, serta pemilihan kata, dan penulisannya tak banyak yang harus diubah. Pagi ini aku mengedit buku tulisan Sanggar Lia Rini. Seorang bidan yang terjun ke dunia penulisan novel. Meski berprofesi sebagai seorang bidan, namun tulisannya cukup bagus. Jalan ceritanya mengalir. Bahkan dia banyak menggunakan idiom-idiom dunia kedokteran ke dalam tulisannya. Judulnya cukup menarik. ‘Bayangan Hati (Bayi)’. Langka memang tapi seperti itulah judul novel yang sedang aku edit pagi ini. Sambil senyum-senyum sendiri, tak terasa sudah Shubuh. Saatnya sholat, setelah itu menyempatkan pulang ke rumah kontrakan dan tidur 3-4 jam lalu berangkat lagi ke kantor. Masih separo yang belum diedit dari novel Bayi ini.

…….

Tak terasa malam kembali menjelang. Seperti biasa hanya ada aku dan pak satpam. Kali ini pak satpam berpesan kepadaku agar tidak usah sampai pagi nglemburnya. Mending dilembur di rumah saja katanya. Aku tersenyum menanggapi beliau. Kalau menurutku kantor adalah tempat untuk bekerja dan rumah adalah tempat untuk melepas lelah.

Kembali aku dengan novel Bayi. Semakin dibaca semakin asyik saja novel ini. Bertutur tentang kehidupan seorang anak kecil yang sejak kecil indra penglihatannya sudah tak berfungsi. Tapi masih ada satu keinginan kuat di dalam dirinya. Dia ingin bisa melihat ibunya. Ibunya tetap menemani. Ibunya berkata bahwa suatu saat dia akan bisa melihat ibunya.

Hanyut juga aku membaca kisahnya. Ponselku berdering lagi. Kulihat satu pesan masuk. Bunyinya sama seperti kemaren. Mengingatkanku untuk melaksanakan sholat tahajjud. Dan aku menyikapi seperti biasanya.

Hari-hari berikutnya kejadian seperti ini kembali berulang. Sampai genap selama seminggu. Dengan nomer yang sama dan bunyi pesan yang sama pula. Aku mencoba menghubungi nomer itu. Tapi tiap aku telfon selalu tak ada jawaban. Namun aku tetap menyimpan nomer itu.

Ini adalah hari penyerahan hasil editingku. Saatnya presentasi. Kami pihak redaksi melakukan meeting dengan Sanggar Lia Rini untuk membicarakan hal-hal terkait dengan penerbitan novel terbaru miliknya. Jauh-jauh dia dari Semarang dan terpaksa mengambil cuti untuk hari spesial ini.

Seorang wanita cantik, tak begitu tinggi, berwajah Jawa datang dengan pakaian casual.

“Lia..” sapanya sambil mengulurkan tangan kepadaku.

“Didi..” jawabku sambil menerima jabatan tangannya.

“Ehemmm..” sahut kepala redaksi. Mungkin sedikit agak menyindirku yang melongo melihat bidadari cantik di depanku. Aku tersenyum.

“Baiklah rapat kita mulai.” kepala redaksi membuka meeting.

Setelah semua staf redaksi, sekarang giliranku untuk mempertanggungjawabkan hasil kerjaku selama ini. Banyak hal-hal teknis yang aku utarakan. Tapi aku tetap memberi penghargaan kepada Lia atas karya pertamanya itu. Entah karena apa, tiba-tiba mulutku menceritakan tentang kejadian seputar sms yang selalu menemaniku mengedit karyanya.

“Ada hal yang menurut saya aneh. Saat saya melakukan proses editing selama seminggu, ada pesan masuk ke inbox saya yang isinya mengingatkan saya untuk bersholat tahajjud. Dan sampai sekarang saya tak tahu itu nomer siapa.”

Kepala redaksi tersenyum. Aku tahu bahwa hal ini tak layak diceritakan di forum ini. Setelah selesai rapat Lia menghampiriku.

“Mas Didi.”

“Iya, ada apa?” tanyaku sambil mengemasi dokumen penting dan laptopku.

“Cerita mas Didi itu beneran ga to?”

“Meski beneran, mana ada yang percaya mbak. Paling-paling mengira saya bercanda. Karena saya sendiri yang masih bujangan di kantor ini mbak.”

“Oh, tapi itu terjadi selama seminggu berturut-turut?”

“Iya mbak Lia. Selama saya mengedit novel mbak. Ga tahu, mungkin ini pertanda novel mbak bakal jadi best seller. Hehehe….”

“Amin..”

“Mbak mau langsung pulang Semarang? Apa mau jalan-jalan di Jogja dulu?”

“Maunya sih jalan-jalan dulu. Sambil nyari oleh-oleh buat temen-temen yang kerja di Rumah Sakit. Tapi ga ada temen. Agak takut juga kalau ga ada temen.”

“Kok oleh-olehnya cuma buat temen-temennya? Buat keluarga?”

“Keluarga saya jauh di kota Pati mas. Saya masih kos di Semarang.”

“Jadi mbak belum berkeluarga?”

“Belum mas, masa mas ga tahu to? Di biografi saya kan ada. Masih belum menemukan pasangan yang tepat mas. Hehehehe…”

“Oh, maaf mbak saya harus ke ruang kerja dulu membersihkan ruangan yang amburadul. Maklum demi novel mbak. Eh, novelnya bagus lho. Beneran. Semoga bisa jadi best seller. Hehehe…”

“Amin, makasih mas. Eh mas, saya boleh minta nomer hape mas Didi?”

“Boleh mbak, buat apa to?”

“Saya kan mau jalan-jalan. Nanti kalau saya kesasar kan tinggal sms mas Didi.”

“Oh gitu. Sebenarnya saya mau mengantar mbak Lia jalan-jalan. Tapi ga bisa kalau sekarang. Masih banyak yang harus saya kerjakan mbak.”

“Ga papa. Minta nomernya saja. Boleh to?”

“Boleh banget mbak. Kalau mau diisi pulsa juga boleh. Hehehe…”

“Gampang deh. Kalau novel saya sudah best seller. Hehehe…berapa nomernya?”

“0856, 470, 366, 56.”

“0856470, 36, 656 ?”

“Iya mbak. Bener.”

“Ya sudah mas saya jalan-jalan dulu. Selamat siang. Monggo…”

“Mari mbak. Hati-hati..”

Meja kantor masih berantakan. Saatnya bersih-bersih. Lumayan dapat uang lembur dari atasan ditambah bisa berkenalan dengan wanita cantik. Saat asyik-asyiknya merapikan meja ponselku berbunyi. Satu pesan masuk.

“mas ne Q da d malioboro, kl dr sni mw k taman pintar arahnya kmn?Lia”

Kulihat nomer ponsel itu. Seperti aku tak asing. Benar!! Ini tak salah lagi!! Ini nomer yang selama ini mengingatkanku untuk sholat tahajjud! Entah ini keajaiban atau apa namanya, aku langsung tancap gas untuk menemuinya setelah sebelumnya kusuruh dia untuk menungguku di malioboro. Namun aku membuang jauh harapanku. Aku tak mau terburu-buru.

Namun dugaanku keliru. Baru beberapa menit aku menghampirinya. Dia lantas bercerita kepadaku.

“Aku juga pernah mengalami hal yang sama seperti mas. Di sms nomer yang tak kukenal untuk melaksanakan tahajjud.”

“Ha? Ini kebetulan saja mungkin. Boleh tahu berapa nomernya?”

“Ini mas, 0274 7564312.”

Ha? Itu kan nomer ponselku yang satunya? Kataku dalam hati. Mungkin ini memang kehendakNya. Tapi aku menyimpan rahasia ini. Tapi namanya juga cinta, meski disimpan seperti apapun baunya tetap tercium juga.

Mungkin yang kemaren adalah bayangan hatinya. Namun sekarang aku benar-benar memiliki hatinya. Hehehe…

(Didik Wahyu K)

Related posts:

  1. Hati-hati, ‘spinonase’ Mengintai Anda
  2. Setahun sudah berlalu, dan setahun pula saya masih mencari sebab kenapa si A pergi meninggalkan saya
  3. Menghadapi Teman Sombong dan Pengatur
, ,

About @dwarifn

Dwi Wahyu Arif Nugroho adalah lulusan Fakultas Psikologi UGM. Aktif selama kuliah dalam berbagai kegiatan dan komunitas. Sekarang memilih menjadi Social Entrepreneur sebagai jalan hidupnya. Selain sebagai Founder Senyum Community (@senyumkita) juga aktif dalam komunitas TDA Jogja. Arif menaruh minat dalam Self Development, Passion+Happinnes, Social Entrepreneuship (Social Innovation) dan Social Media Marketing. Bisa dikontak via email: dwan@senyumkita.com atau twiter : @dwarifn

View all posts by @dwarifn

Subscribe

Subscribe to our e-mail newsletter to receive updates.

No comments yet.

Leave a Reply

Premium Wordpress Themes