“Em, kalau aku ambil kiri, berarti aku akan sampai ke warung tadi. Berarti kalau bukan kiri, aku harus ke kanan. Tapi apa benar ini jalannya ya? Kalau aku balik percuma. Sudah setengah jalan. Lagian aku juga sudah lupa dengan jalan-jalan yang aku lewati tadi. Benar ke kanan nggak ya?”
Perjalanan yang diinginkan Didi seharusnya sudah berakhir. Tujuannya untuk bertandang ke rumah seorang tetua adat rupanya akan sedikit mengalami hambatan.
“Kalau aku nggak berangkat sekarang, lantas kapan aku akan sampai. Sedangkan aku harus bertemu beliau hari ini juga. Tapi ini kan perempatan. Mana gelap lagi. Daerah sini masuk ke dalam peta Indonesia nggak sih? Jam enam kok sudah gelap gulita. Aduh. Bagaimana ini?”
Motor yang ditumpangi dengan terpaksa harus dimatikan mesinnya. Mengingat di daerah terpencil seperti ini pasti sangat sulit untuk menemukan pom bensin. Dan jarum di detektor bensin sudah hampir berada di huruf ‘E’ yang berarti Didi harus menghemat bensin untuk perjalanannya nanti.
“Em, ambil kanan atau kiri ya. Kalau kiri masak aku kembali ke warung kecil tadi. Kayaknya nggak mungkin. Karena tadi sepertinya ada dua belokan setelah warung. Ah, kok jadi pelupa gini. Padahal ini hari penting. Dan hanya hari ini aku bisa menemui beliau. Mungkin andai aku tadi nggak jalan sama Leni, aku pasti sudah sampai. Oh, Tuhan, dimana ini?”
Didi berhenti di perempatan jalan. Hanya semak belukar gelap di kanan kirinya. Lampu jalan tidak ada. Untungnya langit bertabur bintang. Tak ada tanda hujan akan turun. Sedikit memberikan kelegaan di hati pria berumur 24 tahun ini. Sudah hampir tiga tahun lalu dia melakukan riset tentang suku ini. Tapi entah kenapa riset pentingnya tiba-tiba dihentikan. Bahkan keingintahuannya terhadap suku ini hilang. Kepentingannya untuk mengkomersilkan suku ini menjadi sebuah film layar lebar sirna.
Sekarang Didi berada di tengah kebimbangan, yaitu memenuhi tuntutan pihak sponsor untuk menyelesaikan riset ini. Dengan bermodal data-data yang kurang begitu akurat, dia ingin langsung menemui kepala suku. Tapi berdasarkan temuan terakhir, suku ini adalah suku ‘langka dan sakti’. Yang bisa berpindah tempat tanpa diketahui jejaknya. Menurut orang-orang kampung termasuk pemilik warung tadi, memang ada berita dan cerita tentang suku ini.
Dulu pernah ada pejabat yang datang dan mencari tetua adat. Sepertinya pejabat itu datang untuk memohon bantuan secara spiritual agar ia terpilih menjadi gubernur satu daerah. Namun beberapa waktu santer terdengar bahwa pejabat itu tak pernah kembali ke rumahnya. Bahkan ada yang pernah bilang pejabat itu menjadi orang gila di jalanan. Berita itu pun menjadi simpang siur.
Namun ada juga penduduk kampung miskin yang sedang sakit parah tiba-tiba ia didatangi orang berpakaian compang camping tak dikenal. Penduduk sempat ragu ketika orang itu menawarkan diri untuk menyembuhkan si miskin. Apalagi ketika ia mengaku sebagai tetua adat suku itu. Tapi penduduk percaya saja karena si miskin benar-benar tak bisa disembuhkan. Lalu tetua adat itu membawa si miskin hilang di kegelapan. Tak berapa lama hanya dalam waktu kurang dari 24 jam, si miskin pulang dengan kondisi tubuh yang segar bugar. Wajahnya berseri-seri. Bahkan ia membawa beberapa peralatan untuk bercocok tanam. Kurang dari sebulan, si miskin berubah hidupnya menjadi petani yang mandiri.
“Hah, sudah hampir satu jam aku disini. Kenapa otakku eror kayak gini. Padahal aku ingin sekali bertemu dengan beliau untuk meminta pertimbangan. Apakah layak, sebuah kekhasan budaya dijadikan produk film horor murahan. Apalagi skrip yang sudah kubaca menunjukkan adanya gelaja eksploitasi tubuh wanita di beberapa scene. Apakah fisik suku ini sesuai yang diimajinasikan orang-orang? Terutama para wanitanya yang hanya berpakaian dalam saja? Ah entah lah.”
Malam makin dingin. Di daerah yang masih kurang begitu terkena polusi udara seperti ini, udara malam hari memang dingin. Didi linglung. Dia kehilangan akal. Mau kembali tapi sudah lupa jalannya. Lurus terus pasti dia akan tersesat semakin jauh. Ke kanan hampir bisa dipastikan dia akan semakin bingung. Ke kiri, keraguan masih menyelimuti. Akhirnya dia berhenti tepat di tengah-tengah perempatan.
Terdengara sayup suara-suara hewan malam. Kadang sedikit angin datang menghujam persendiannya. Untung dia memakai jaket tebal. Helm tak pernah lepas dari kepalanya. Penerangan tak ada. Intuisi sudah mati. Mengandalkan naluri, dia sendiri merasa tak memiliki hati nurani. Karena dia sempat tergiur oleh penawaran sang produser untuk melakukan risetnya.
Bimbang.
Motor distandartkan. Dia berdiri di samping motornya. Pantatnya sudah panas. Lututnya terasa pegal. Kalau terpaksa, dia harus mau menunggu sampai matahari muncul esok hari. Wajahnya lusuh tak karuan. Kepalanya berputar-putar. Berharap ada orang yang lewat di perempatan ini. Tapi kata pemilik warung tadi, sepertinya tak ada orang yang berani lewat di perempatan ini setelah pukul lima sore. Perempatan ini adalah salah satu perempatan yang disinyalir angker. Beberapa orang pernah melihat rombongan orang berbaju serba putih yang lewat di perempatan ini dengan cepat sekali. Seperti terbang. Yang melihat langsung lari kebirit-birit dan tak berani melanjutkan perjalanannya.
Di tengah kelelahannya, Didi mendengar langkah kaki dan suara roda kayu yang beradu dengan tanah. Dia menoleh ke kanan. Wajahnya sedikit gembira. Suara itu semakin keras mendekat, tapi tak ada apapun yang mendekat. Lalu,
“Nak! Hati-hati! Jangan berhenti di tengah jalan!”
Sontak Didi kaget mendengar teriakan yang tepat berada di dekat telinganya. Ternyata ada lelaki tua yang naik gerobak sapi datang dari arah belakang.
“Kamu jangan menghalangi jalanku! Cepat menyingkir! Jangan berhenti di tengah jalan seperti itu! Minggir!”
Didi terperangah. Dia mematung.
“Tentukan langkahmu! Kalau ke kanan ya kanan. Kalau ke kiri ya kiri. Kalau mau balik segera balik. Kalau mau lurus jalan saja terus! Cepat minggir!”
“Iya, maaf pak.”
Didi menuntun motornya ke pinggir.
“Maaf pak, saya mau ta……”
Lidah Didi kelu. Lelaki tua beserta gerobaknya menghilang. Hanya secarik kertas tertinggal. Didi membuka kertas itu perlahan. Dia mencoba mengendalikan ketakutannya.
“AKU lah yang kamu cari. Tentukan pilihanmu sekarang. Jangan berhenti di tengah jalan. Karena kemanapun kamu melangkah, pasti kamu akan menemukan-KU. AKU tahu apa yang ada di hatimu. Ingat, jangan pernah berhenti di persimpangan. Itu mengganggu perjalanan orang lain.”
Didik Wahyu K
No related posts.












March 3, 2010 at 10:13 pm
inspiratif.. ^_^
[Reply]