Hanya Cinta

February 9th, 20109:30 pm @ arif

0



Jalan sepi itu gelap. Segelap hati seorang Ichwan. Ketua rokhis sebuah SMA di kota Jombang. Ia berjalan sendiri sehabis Isya’ menyusuri gang-gang sempit menuju rumahnya. Mulutnya bergumam menghafalkan satu ayat yang di ijazahkan seorang Kyai kepadanya tadi sebelum pulang. Hatinya resah lantaran tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba seseorang yang mengaku Kyai itu menariknya paksa dan mengajaknya berjalan berteduh di bawah pohon beringin besar dekat masjid tempatnya sholat. Ini sudah menjadi kebiasaan Ichwan. Ia selalu sholat berpindah tempat dari satu majid ke masjid yang lain. Pernah ketika ia pergi keluar kota, ia ditegur oleh pedagang rokok karena ia baru saja sholat berjamaah di masjid LDII. Tapi ia hanya tersenyum menanggapi teguran pedagang rokok itu. Baginya, ia hanya ingin menemui Tuhan di tempat yang lebih layak walaupun semua tempat sebenarnya sama layaknya di mata Tuhan. Ia juga tak ingin menaruh prasangka berlebihan. Mungkin.

Kyai itu tak mengatakan apa-apa. Hanya satu ayat saja dari surat AnNur. Dan ini telah membuat Ichwan membawanya sampai ke ranjang tidur.

Dalam mimpinya, Ichwan bertemu lagi dengan Kyai itu. Sama. Kyai itu hanya mengucapkan satu ayat saja dari surat AnNur. Kejadian ini berlangsung selama seminggu berturut-turut. Jelas ini mengganggu metabolisme berpikir otaknya. Bahkan ia sempat memenuhi saran bapaknya yang kebetulan juga seorang Ustaz untuk berpuasa selama seminggu berturut-turut. Tanpa sadar juga ia membaca ayat itu di dalam sholatnya. Baik wajib maupun sunnah.

Puasa selama seminggu telah dilakukan. Berangsur tapi pasti ia ingin melupakan kejadian di masjid itu. Ia berusaha acuh dan ingin menjalani hari-hari sebagaimana mestinya seorang aktivis dakwah di sekolahnya.

Berbagai macam kegiatan diagendakan. Selain menyambut kedatangan bulan Ramadhan yang mulia, dengan begini ia bisa membiarkan dirinya hanyut dalam kesibukan bermanfaat tanpa berpikir macam-macam lagi tentang ayat tadi.

“Baik sahabat-sahabatku sekalian. Pertemuan kali ini akan kita isi dengan sedikit kajian tentang bagaimana seorang muslim bersikap kepada orang-orang kafir. Dalam sesi pertama ini akan langsung kita isi dengan tanya jawab dan berbagi ilmu. Akhwat dan ukhti semua memiliki hak yang sama untuk bertanya dan menjawab.” pertemuan sore itu.

“Aku masuk!”

“Silahkan akh Rosyid!”

“Dalam salah satu hadist dikatakan bahwa Rosulullah SAW mengatakan kita harus bersikap tegas dengan orang kafir. Apakah semua orang non muslim termasuk orang yang kafir?”

“Aku masuk!”

“Oke silahkan akh Indra!”

“Jelas sekali itu. Karena yang membedakan antara orang kafir dan muslim adalah sholatnya. Jadi seseorang yang tidak melakukan sholat berarti ia adalah bukan muslim dan termasuk kafir. Dan orang muslim dilarang sekali untuk mengikuti langkah-langkah orang kafir karena sesungguhnya itu adalah sebuah langkah yang menggiring seorang muslim ke neraka Jahanam.”

“Emm, cukup menarik jawaban dari akh Indra. Bagaimana, ada yang ingin berkomentar lagi terkait dengan topik kali ini? Kalau tidak, mungkin akan kita akhiri karena saya sengaja membuka pertemuan ini dengan hal-hal yang tidak hanya menarik untuk dibicarakan saja. Tetapi butuh proses lebih lanjut untuk menemukan titik temu dari setiap pembicaraan kita tadi. Jadi saya harap mulai sekarang dan seterusnya, dalam setiap pertemuan rutin baik dengan, atau tanpa saya, saya mohon sahabat sekalian melakukan proses seperti ini. Tapi tolong beda pendapat jangan dijadikan cara untuk saling menjatuhkan. Baik selanjutnya kita akan membahas seputar kegiatan pesantren kilat di sekolah kita.”

………………….

Minggu pagi udara di kota Jombang segar sekali. Seolah ini yang tersegar di antara oksigen-oksigen yang pernah bertaburan di langit kota Jombang. Kegiatan Ichwan dan kawan-kawannya, yaitu Rosyid dan Indra yang merupakan sahabat karibnya sejak kecil, adalah jogging berkeliling kampung sekitar rumah sampai di dekat sekolah mereka. Setelah sholat Subuh tadi ketiganya mulai dengan pemanasan kecil di depan rumah Indra. Lalu setelah dirasa cukup mereka bergegas berolah raga sambil bertukar pikiran seputar agama. Sesekali kegembiraan mereka luapkan lewat canda tawa sewajarnya.

“Bagaimana kalau kita lomba lari. Siapa yang menang harus mentraktir nasi rawon di warung cak Mamat nanti. Setuju?” tawar Rosyid.

“Boleh. Siapa takut!” terima Ichwan.

“Wah. Kalian ini bagaimana sih. Itu kan sama saja dengan perjudian. Judi itu kan sangat dilarang. Karena lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Jadi lebih baik jangan.” Indra mencoba memperjelas keadaan.

“Bener juga.” Ichwan meng-amini dan ini tentu saja sangat disetujui juga oleh Rosyid.

Walaupun bagaimana secara akademis memang Ichwan lebih unggul dalam keorganisasian dibandingkan Indra. Tapi secara akidah dan ilmu agama Indra jauh lebih banyak tahu daripada Ichwan. Mereka pun menghargai pendapat Indra dan melanjutkan jogging semestinya.

Jalan demi jalan dilalui. Mereka tetap menjaga pandangan. Berusaha sekuat mungkin untuk tidak melihat hal-hal yang dilarang oleh syariat. Ketika sampai di sebuah tikungan menuju jalan utama di sekitar sekolah, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara seorang wanita yang berteriak minta tolong.

“TOLONG!”

Segera mereka mencari sumber suara itu. Beberapa saat kemudian didapati seorang ibu paruh baya dengan dandanan cukup rapi berteriak sambil menangis.

“Ada apa Bu?” tanya Ichwan.

“COPET!!” teriak si ibu.

“Mana bu copetnya?” tanya Indra tak kalah panik dengan si ibu.

“Itu!” si ibu menunjuk ke arah dimana pencopet itu lari berbelok ke gang kecil.

Tanpa pikir panjang ketiganya langsung ambil posisi langkah dua puluh ribu. Kebetulan Rosyid pernah menjuarai lari jarak pendek di kejuaraan kabupaten kemaren. Kejar-kejaran terus berlanjut. Rupanya lari pencopet itu cukup kencang. Tapi ketiga pemuda muslim ini tak kalah kencangnya. Spontan mereka berpencar. Ichwan yang hafal betul dengan gang-gang di sekitar sekolahnya berlari lewat jalan tikus untuk mencegat pencopet itu. Beberapa menit kemudian,

“Heh! Mau kemana kamu? Serahkan tas itu kepada kami sekarang juga! Kembalikan! Itu bukan hak kamu!” teriak Ichwan yang jelas mengagetkan pencopet itu.

Sekarang pencopet itu sudah terkepung. Bukannya takut tapi pencopet itu malah menantang balik mereka.

“Dasar anak ingusan. Kalian pikir aku takut. Menyingkirlah kalau kalian tak ingin terluka oleh senjataku ini.” kata pencopet sambil menghunus pisau belati dari balik punggungnya.

Pencopet itu terus mengacung-acungkan pisau belati. Ia berusaha menakut-nakuti mereka. Mereka sedikit mundur. Tapi,

“HIYAT!!!!”

Brak! Bug! Bug! Brak! Brak! Auw! Gubrak! Buk! Buk! Buk!

“Baik, ampun. Aku menyerah. Aduh.” kata pencopet itu sambil mengelus-elus kepalanya.

“Makanya jangan anggap remeh anak kecil. Tahu sendirikan akibatnya.” kata Rosyid sambil menjambak rambut pencopet itu.

Tak disadari sudah banyak orang yang menyaksikan kejadian ini. Pencopet beserta belatinya diserahkan kepada masyarakat untuk dibawa ke kantor polisi. Mereka juga berpesan supaya jangan main hakim sendiri karena wajah pencopet itu sudah cukup amburadul terkena jurus-jurus maut dari Ichwan, Rosyid, dan Indra.

“Ini bu tas anda.” Ichwan menyerahkan tas hitam dari kulit buaya itu kepada pemiliknya.

“Oh terima kasih sekali kalian sudah membantu ibu. Ibu tak tahu bagaimana nasib ibu kalau tak ada kalian tadi. Kalian baik. Jaman sekarang jarang ada pemuda baik seperti kalian ini.” kata si ibu lega setelah memeriksa kembali isi tasnya yang masih lengkap.

“Ah, ibu terlalu memuji.” jawab Rosyid sambil tersenyum bangga.

“Sekarang apa yang harus ibu lakukan untuk membalas kebaikan kalian.”

“Ah tidak usah bu. Ini sudah menjadi kewajiban kami. Ibu tak usah repot-repot. Lebih baik ibu lanjutkan perjalanan ibu saja karena sepertinya ibu terburu-buru.” jawab Ichwan bijak.

“Oh ya sudah. Kalau begitu sekali lagi terima kasih banyak telah membantu ibu. Semoga Tuhan memberkati sekolah kalian.”

“AMIN!!!”

“Terima kasih. Mari….”

“Mari bu…hati-hati ya bu…”

Ibu itu menoleh dan tersenyum haru. Mereka segera pulang ke rumah dengan rasa bahagia. Rencananya mereka akan sarapan di rumah Ichwan. Kebetulan ibunya Ichwan sudah masak nasi rawon. Ichwan sudah lupa dengan apa yang dikatakan sang Kyai misterius dulu kepadanya. Ayat berapa dari surat apa ia sudah lupa.

………………….

Ibu berdandanan rapi itu membuka tas kulitnya. Kemudian ia mengambil sebuah buku dan masuk ke dalam bangunan besar di dekat toko kelontong seberang jalan. Ia membuka kitab Injil dan dengan hikmat berdoa bersama jemaat gereja Santa Maria.

………………….

(Didik Wahyu K)

Tags: