Ini belum Isya, Mba

September 5, 2010

Goresan Senyum

Agustus, 2010

2 minggu menjelang penarikan KKN PPM saya dari dusun ini

Suasana di Mesjid sore itu 17.20 WIB

Pak Dukuh sedang berceramah dibagian depan. 3 orang bapak – bapak sedang mendengarkan ceramahnya. 4 ibu-ibu juga mendengarkan ceramah. 5 orang simbah putri bersandar di tembok sembari tetap mendengarkan pula. Tetapi,  dibelakang itu. Di sebuah  ruangan lain yang terhalang sebuah papan coklat dengan maksmeredam suara, berpesta lah para bocah-bocah dengan berbagai macam polah menunggu buka. Di dalam situ ada sepasang keluarga bapak-ibu sedang menyuapi putri kecilnya. Bocah laki-laki sedang ngobrol di sudut dekat pintu. 4 gadis kecil menyudut tertawa-tawa sambil mencuri – curi lihat ke arah salah satu teman KKN saya (pria). Dan sekitar 7, 8 ,9 atau bahkan malah belasan bocah-bocah tengah keluar masuk, dan berloncatan. hufh ramaiiii seperti biasa. Tapi cukup menyenangkan.

Sedikit intermezzo :

ada fenomena berbeda di dusun tempat saya KKN.

Angka Pria lebih banyak dari perempuan. Dengan perbandingan ngasal ala saya ( tapi ini berdasarkan pengamatan yang cukup sahih lho)yaitu  5:1 alias setiap lima orang laki-laki ada 1 perempuan (kira-kira begitu).

Bias dibayangkan kan dusun ini penuh dengan kekuatan otot (hehe, tanpa maksud menyinggung salah satu jenis kelamin lho..peace;) ) , dan di Masjid ini pun kita dapat melihat fenomena itu.

17. 40 WIB

kami para mahasiswa KKN dan 2 orang remaja laki-laki selesai menyiapkan minum dan makan serta membagikannya ke seluruh jamaah,

Dan untuk sore ini, saya dan seorang teman perempuan saya harus menunda buka puasa saya. Makanan dan minuman yang ada tidak sebanding dengan jemaah yang hadir sore itu.

Saya beranjak untuk duduk ke dekat beberapa bocah yang asyik minum teh dan mulai membuka nasi bungkusnya. Lucu sekali, saya bahkan sampai tidak lapar sama sekali. Malah jadi tersenyum –senyum melihat si bocah yang belepotan dan sibuk dengan nasi mereka.

“ ini buat mba Ina ” adik kecil di depan saya tiba-tiba memberikan bungkusan nasi nya yang belum dibuka sama sekali.

“Lho kok Seto ga maem? Ngga puasa pho?”, jawab saya

“Puasa”, balasannya singkat, dengan senyum polos nan menyejukkan.

“Ya udah Seto maem aja, nanti mba Ina maem di rumah”, jawab saya dengan berusaha menyerahkan kembali nasi bungkusnya

“ Isya”, ia menimpali

“kenapa?” saya bertanya kembali karena belum mengerti maksud kata-katanya . Maklum terkadang bocah memang punya kamus tersendiri maksud ucapan mereka yang hanya secuil upil.

“ isya”, Seto kembali berkata. Kali ini sambil melompat -lompat dengan gaya khas anak usia TK yang segala tempat di dunia ini seakan milik mereka. Kemudian ngeloyor pergi ke arah teman-temannya.

Dengan masih berwajah bingung bin penasaran. Saya hampir mengejarnya. Tetapi tiba-tiba suara Nanda , Masnya Seto yang tak kalah lucunya muncul. “Mba Ina , Seto tuh buka puasa mbedugnya telat 1 jam. Tadi Seto maem jam 1. bukanya juga jadi nambah 1 jam. Isya nanti baru boleh maem nasi lagi”.

Mendengar penjelasan itu, tanpa usaha mengejar si Seto kembali, ataupun berusaha bertanya alasannya. Saya langsung membuka nasi bungkus di depan saya itu dan memakannya. tanpa minum.

Bukan karena kelaparan,

bukan karena sudah tahu jawabannya,

bukan pula karena malas memanggilnya yang tengah asyik gojeg dengan teman seumurannya.

Tetapi ini karena bahagia.

Tuhan begitu baik,

sore ini saya diberi kesempatan untuk melihat malaikat kecil.

Terimakasih,

Allah, berikan senyum manis –Mu untuknya.

(Kurnia Kartikawati – Pemenang Senyum Quiz Ramadhan)

Related posts:

  1. Arti Seorang Sahabat yang Baru Ku Ketahui

About @dwarifn

Dwi Wahyu Arif Nugroho adalah lulusan Fakultas Psikologi UGM. Aktif selama kuliah dalam berbagai kegiatan dan komunitas. Sekarang memilih menjadi Social Entrepreneur sebagai jalan hidupnya. Selain sebagai Founder Senyum Community (@senyumkita) juga aktif dalam komunitas TDA Jogja. Arif menaruh minat dalam Self Development, Passion+Happinnes, Social Entrepreneuship (Social Innovation) dan Social Media Marketing. Bisa dikontak via email: dwan@senyumkita.com atau twiter : @dwarifn

View all posts by @dwarifn

Subscribe

Subscribe to our e-mail newsletter to receive updates.

One Response to “Ini belum Isya, Mba”

  1. fendi ahmad Says:

    terkadang dalam suatu hal, kita dikalahkan oleh seorang anak kecil >,< ~nice story~

    [Reply]

Leave a Reply

Premium Wordpress Themes