Jendela Jiwa

January 22nd, 20103:05 pm @ arif

0



Aku melihat pantulan diriku di cermin. Seorang gadis dengan tinggi yang tidak seberapa. Berkulit sawo matang dengan rambut terurai panjang tengah mengenakan piyama yang telah pudar warnanya. Aku mencoba tersenyum semanis mungkin, namun yang kulihat hanyalah sosok gadis yang sedang meringis. Mataku memang terlihat lelah. Meski kupaksakan tersenyum hingga tertawa lebar yang dibuat-buat, ternyata sorot mataku tidak dapat diajak kerjasama. Yang terlihat jelas di kedua mataku hanyalah tatapan penuh lelah dan kecewa.

Hari ini memang kuhabiskan dengan menangis sepanjang waktu. Aku menangis dalam diam. Aku tidak terbiasa menangis dengan air mata. Bagiku, air mata tanda ketidakberdayaan. Aku tidak mau menangis dengan diiringi air mata. Tangis dalam diam memang tidak pernah memberi kelegaan, yang ada hanyalah kekecewaan yang semakin menumpuk hingga menyesaki ruang dalam hatiku. Tapi aku adalah manusia berprinsip, pantang bila aku menangis dengan air mata oleh karena ketidakberdayaanku.

Aku menangis karena aku ternyata belum siap menghadapi problema yang terlalu beragam. Terlalu beragam hingga menyesakkan.

Aku tiba-tiba teringat masa-masa dimana ketika usiaku masih sangat belia tapi fakta dimana aku pernah menghidupi kedua orang adikku merupakan suatu problema yang bisa diatasi oleh orang-orang kebanyakan. Katakanlah aku tidak boleh mengeluh karena bagaimana pun, kedua orang adikku membutuhkan diriku sebagai pengganti figur orangtua sejak Ayah meninggal karena sakit dan Ibu yang terpaksa jirah ke Singapura untuk bekerja sebagai TKI. Pada awalnya, Ibu masih rajin mengirimi kami uang. Alhamdullilah, uangnya cukup untuk membiayaiku kuliah dan kehidupan kami bertiga beserta Nenek. Kelebihan uang kutabung dan kujadikan modal untuk membuka warung makan. Nenek gemar sekali memasak dan kami akui, masakan Nenek sangatlah enak. Nenek-lah yang kemudian mengurusi warung makan beserta kami cucu-cucunya. Warung makan kami laris-manis. Sebenarnya, tanpa Ibu rutin mengirimi kami uang saat itu pun kami tidak masalah karena warung makan kami bisa kami jadikan tempat kami bergantung untuk sementara. Akan tetapi, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama karena kami mendengar kabar yang mengagetkan mengenai nasib-nasib TKI yang dianiaya di negeri orang. Kami sebenarnya mengetahui resiko seorang TKI, akan tetapi Ibu bersikeras untuk mencari uang disana dengan resiko tersebut. Kami tidak punya pilihan. Ibu cumalah lulusan SMA. Ijazah SMA tidak bisa digunakan untuk menangungg hidup kami berempat. Sayangnya, waktu itu aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Ibu tadinya mau buka usaha kecil-kecilan, tapi modalnya darimana? Pinjam ke Bank? Ah, jaminan apa yang bisa kami beri kepada pihak Bank? Lagipula, sudah menjadi rahasia umum jika Bank dan segenap lembaga keuangan lainnya lebih mendukung pengusaha-pengusaha kelas kakap dibandingkan kami ini. Kami yang tidak punya pilihan pada saat itu pun mengiyakan keberangkatan Ibu. Aku menangis pada waktu itu. Iya, aku menangis dengan air mata. Ibu menyeka air mataku dan memberikan sepotong kecil nasihat yang kupegang hingga saat ini.

Ibu memegang pundakku dan mulai berkata-kata dengan bahasa yang samar-samar kudengar,”Tiara, ketika Ibu masih kecil, Ibu seperti laiknya anak-anak kecil lainnya. Ibu mengingini banyak hal dan Ibu merengek-rengek kepada orangtua agar mereka mau memberikan apa yang Ibu inginkan. Kamu tahu? Orangtua Ibu mengatakan tidak. Ketika orangtua Ibu mengatakan tidak maka tidak, tidak perduli seberapa kuat Ibu menangis dan seberapa banyak air mata yang telah mengalir, itu semua hanyalah sia-sia. Menangis tidak akan pernah menghantarkan kita kepada apa yang kita inginkan oleh karena itu jangan pernah mudah menangis. Dirimu harus kuat, karena jika tidak, Ibu tidak tahu harus kepada siapa lagi Ibu harus menyerahi tanggung jawab ini.”

Saat itu aku menyanggahnya dengan mengatakan bahwa Nenek bisa mengemban tanggung jawab tersebut. Ibu menggeleng sambil tersenyum. Ibu berusaha tersenyum namun lagi-lagi, sorot matanya mengatakan Ibu tidak benar-benar sedang tersenyum.

“Jangan penah memberikan tanggungjawab yang telah dipercayakan orang lain kepadamu kepada orang lain. Tanggungjawab membuatmu bertumbuh dan berkembang. Pegang itu dalam hatimu.”

Ibu pun pergi meninggalkan kami. Adik-adikku menangis hebat. Adik-adikku belum mengerti apa-apa, tidak mungkin mereka menangis karena kepergian Ibu. Toh Ibu sudah sering meninggalkan kami karena pekerjaannya yang serabutan. Mereka menangis karena dilihatnya aku menangis. Sejak saat itu, aku berjanji aku tidak akan menangis lagi. Aku adalah contoh bagi adik-adikku. Aku harus kuat, seperti kata Ibu. Sejak kepergian Ibu dan berita mengenai penganiayaan terhadap TKI semakin santer, sejak itu pula kami mulai kehilangan kontak dengan Ibu.

Sepeninggal Ibu, kami melalui hal-hal suka dan duka bersama. Seiring berjalannya waktu, adik-adikku pun tumbuh besar. Yang perempuan bernama, Karin, memutuskan untuk mengambil sekolah perawat. Sementara adikku laki-lakiku, Panji, memutuskan untuk meneruskan pendidikannya di Akademi Kepolisian di Semarang setelah mendapatkan gelar strata 1-nya terlebih dahulu. Awalnya, aku marah-marah dengan keputusannya. Buat apa kuliah empat tahun jika toh ujung-ujungnya juga ambil AKPOL? Kenapa tidak sehabis tamat SMA saja langsung ke AKPOLnya? Panji menjelaskan kepadaku bahwa persyaratannya sudah berubah. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Bagaimana jika Panji pada waktu pembukaan pendaftaran AKPOL belum merampungkan masa kuliahnya sementara usianya semakin bertambah pula? Atau bagaimana jika Panji bahkan tidak bisa kuliah karena keterbatasan dana? Ah, adikku ini memang beruntung.  Syukurnya lagi, adikku Panji ini memiliki wajah yang baik dan mulus hingga jerawat pun enggan menempeli kulitnya karena belakangan ini baru kuketahui salah satu syarat masuk AKPOL adalah tidak boleh berjerawat. Aku kemudian terkikik geli. Ini AKPOL atau tempat modeling? Maka kemudian jangan salahkan aku ketika Panji pesiar dan pulang ke rumah, dia akan menjadi target ejekan bagi kami berdua: Model.

Ketika adikku Karin dilamar, aku gembira bukan main. Aku sujud syukur berkali-kali akan tetapi tidak demikian dengan dirinya. Awan mendung senantiasa melingkupinya. Suram! Wajahnya tidak bahagia. Aku bertanya kenapa. Karin menjawab bahwa dia tidak mau melangkahi kakaknya.

Aku terkesiap.

“ASTAGA! Aku bahkan tidak pernah berpikiran seperti itu, Rin. Menikahlah. Apa lagi? Jangan pikirkan aku. Aku bahagia dengan kondisiku sekarang ini.” Jawabku.

“Benar Kakak bahagia? Aku tidak pernah melihat Kakak benar-benar bahagia. Kapan, Kak?” Tanya Karin.

Aku menggamit jemarinya. “Setiap saat yang kuhabiskan denganmu dan Panji adalah saat-saat terindah dalam hidupku, Rin. Jangan karena seseorang ataupun sesuatu, maka kebahagiaanmu terenggut. Ingat, jika kebahagiaanmu tidak mendatangkan penderitaan kepada orang lain maka jalanlah terus. Raihlah kebahagiaan itu.”

Karin memelukku erat. Aku membalas pelukannya. Pada saat itu, air mataku hendak menetes. Namun, aku kuatkan diriku. Ingat, aku tidak boleh menangis. Tenggorokanku pedih. Emosiku menumpuk. Sesak terasa.

Karin menikah dengan Adit. Adit adalah sosok pria yang baik, penyayang, sopan, dan penuh dengan tanggungjawab tinggi. Siapapun akan mendamba sosok pria sepertinya. Tidak perlu tampan, asalkan pribadinya menyenangkan dan dapat dijadikan tempat untuk bersandar, maka mengapa tidak? Tiba-tiba aku merasakan suatu kerinduan yang mendalam. Betapa menyenangkannya memiliki seseorang untuk berbagi. Tadinya kupikir Panji dan Karin dapat menjadi tempat berbagi bersama. Akan tetapi aku lupa bahwa mereka pun beranjak dewasa dan kemudian memutuskan untuk mencari peraduan kebahagiaannya sendiri.

Aku pun mulai memikirkan diriku sendiri. Aku mulai mempercantik diri. Aku mengencani banyak pria hingga pilihanku tertuju pada Agus. Aku dan Agus terpaut lima tahun. Aku yang lebih tua. Bagiku Agus seperti air dingin yang menyegarkan dahagaku. Lagipula, dia baik dan rekan sekantorku. Aku bekerja di suatu perusahaan konsultan di Jakarta, aku menjabat sebagai manajer sementara Agus adalah senior consultant di perusahaan ini.

Hubunganku dengan Agus tidak berjalan mulus. Agus ternyata juga menjalin asmara dengan gadis lain yang ternyata lebih muda dan barangkali lebih cantik dariku. Hubunganku dengannya hanyalah sebatas promosi jabatan yang dia inginkan. Seharusnya, aku sudah sadar dari dulu bahwa hubungan yang timpang seperti ini tidak pernah berhasil. Aku sempat terpuruk.

Hari ini aku melihat kedalam cermin sosok gadis… ya, aku masih gadis. Gadis yang sorot matanya tidak memancarkan sinar kebahagiaan. Gadis yang senantiasa bermuram durja. Jemariku yang panjang pun  menyusuri tiap lekuk wajahku. Semakin kususuri, semakin dadaku sesak. Seakan-akan ada sebongkah besar benda yang memaksa keluar dari dadaku. Memori belasan tahun yang lampau menyeruak dan terpantul jelas dari cermin tersebut. Pengalaman-pengalaman yang kualami ternyata telah membentuk seorang Aryunani menjadi seperti sekarang ini. Aku pikir aku tidak kuat, akan tetapi aku ternyata lebih kuat dari yang aku duga.

Pandanganku mengabur. Kedua bola mataku tergenang emosi. Aku tidak dapat membendung lagi air mataku. Ia pun mengalir hangat, menyusuri kedua pipiku membentuk lekukan-lekukan anak sungai yang mengairi tanah-tanah tandus dan kering.

Aku menangis hebat seperti anak kecil. Perasaan ini melegakan. Aku meraung-raung. Segala emosiku tertumpah-ruah… Aku berguling-guling. Aku telungkup. Aku telentang. Aku jongkok. Aku berdiri. Aku meninju bantalku. Aku teriak didalam bantalku. Aku menjambak rambutku. Aku menjadikan rambutku sebagai penyeka tangis yang membanjir.

Aku kembali melihat diriku dalam pantulan cermin. Mataku menyipit, memerah ,dan menjadi super sembab. Hidungku merah.  Aku pun mencoba tersenyum. Meski rupaku sungguh buruk, namun tatapanku menyiratkan kebahagiaan dan ketenangan. Emosi yang telah menjadi awan gelap bagi sinar mataku telah sirna dan aku menikmatinya…

-jojo-

http://akudanintermezzosesaat.blogspot.com/