Senyum Seorang Ibu Juru Parkir

March 19, 2010

Goresan Senyum

Cita-cita tak semuanya bisa terwujud. Yang terpenting bukanlah terwujud atau tidaknya cita-cita yang kita impikan, namun bagaimana kita menyikapi apa yang terjadi pada diri kita saat ini karena itu semua merupakan skenario Sang Pencipta.

tukang parkirSebuah pesan masuk ke handphone saya dini hari itu, tepatnya pukul 01:15 WIB. Saya pun penasaran, pesan apa gerangan yang dikirim sepagi ini. Saya buka pesan itu, saya baca kata demi kata, huruf demi huruf, sungguh menginspirasi! Barangkali Anda juga terinspirasi setelah membaca pesan tersebut. Oleh karena itu, seizin pengirim pesan, saya sajikan pesan tersebut untuk Anda semua sahabat, pada tulisan ini. Namun agar lebih mudah dipahami, izinkanlah saya untuk memanjangkan kata-kata yang disingkat pada pesan aslinya. Pesan itu berbunyi:

“… Tadi sore saya baru jalan, dekat Purawisata, barat jalan, ada seorang ibu yang menjadi jukir (juru parkir).. Saya perhatikan dandanannya cukup elok bagi seorang ibu yang berumur kurang lebih 45 tahun.. Begitu bersemangat dan nampak bahagia.. Ketawanya yang khas menyelimuti tidurku sekarang. Saya jadi berpikir tentang masa lalu ibu ini, saya yakin dulu beliau tidak akan pernah bercita-cita ataupun berkeinginan menjadi jukir.. Tentu layaknya kita dulu waktu kecil, mencoba mengulas bahwa kita ingin menjadi dokter, tentara, guru, ataupun polisi.. Ini tentang pemaknaan hidup saudaraku.. Apapun yang terjadi pada diri kita sahabat, kita harus optimis dan berikan yang terbaik bagi orang-orang tercinta kita.. Dengan senyuman ceria kita, dengan ketulusan hati kita, dengan kesucian jiwa kita. Keyakinanku ibu tadi menjadi salah satu mutiara kebahagiaan bagi anak-anaknya ataupun suaminya.. Harapku sahabat, begitu juga dengan Anda, menjadi pilar kebahagiaan dan kebanggaan orang-orang tercinta di sekitar Anda, termasuk saya. Ini tentang pemaknaan hidup.. Semoga Anda benar-benar menjadi bintang di hati kita, di hatiku dan keluarga Anda …”

Ya, betul sahabat. Gantungkanlah cita-cita setinggi langit, begitu pesan guru kita dulu sewaktu TK atau SD. Tidaklah salah menggantungkan cita-cita setinggi langit, menurut saya justru memang harus begitu. Namun adakalanya tidak semua cita-cita yang kita impikan bisa terwujud menjadi nyata. Ada satu, dua, tiga bahkan lebih dari sekian banyak impian yang ingin kita raih tidak terwujud. Lalu apa sikap kita ketika realita tak seindah impian? Apakah kita akan menyalahkan diri sendiri? Lari dari keadaan? Atau bahkan menyalahkan Tuhan?

Tak terwujudnya sebuah cita-cita tentu selain ditentukan oleh sejauh mana kita berusaha untuk menggapainya, juga ditentukan oleh Sang Maha Pencipta, Sang Sutradara kehidupan. Tuhan akan mengabulkan apa yang kita butuhkan, bukan mengabulkan apa yang kita inginkan. Bisa jadi apa yang kita inginkan atau kita impi-impikan sebenarnya tidak kita butuhkan, kalaupun Tuhan mengabulkannya bisa jadi malah menjadi bumerang bagi diri kita. Namun bisa jadi pula, apa yang tidak kita inginkan sejatinya adalah yang kita butuhkan. Oleh karena itu sahabat, jadi apapun Anda hari ini, tetaplah optimis dan berbuatlah yang terbaik untuk masa depan. Tidak hanya masa depan di dunia saja, namun juga masa depan di akhirat kelak. Yakinlah sahabat, harapan itu masih ada. Mari kita berprasangka baik kepada Sang Pencipta. Berprasangka baik kepada Tuhan adalah pilihan terbaik dari berbagai pilihan yang ada.

Senyum ceria nan tulus serta semangat seorang ibu juru parkir ternyata mampu membuat hati kita tergetar untuk senantiasa mensyukuri apa yang telah Tuhan karuniakan pada diri kita. Jika ibu juru parkir itu bisa melakukannya, saya sangat yakin Anda pasti juga bisa melakukannya, Sahabat.. Tersenyumlah, bersemangatlah, optimislah, berbuatlah yang terbaik, lalu getarkanlah jiwa-jiwa insan yang melihat diri kita. Anda adalah inspirasi tak bertepi yang akan menjadi oase bagi setiap insan yang ada di sekita kita. Sahabat, mari kita berikan senyum tertulus yang pernah kita miliki kepada orang-orang di sekitar kita, mulai saat ini… J

(Zen Muhammad A.)

Related posts:

  1. Keingintahuan Mengantar Pras menjadi Seorang Programmer
  2. Arti Seorang Sahabat yang Baru Ku Ketahui
  3. 6 Cara memaafkan diri sendiri
  4. Meraih mimpi dengan berkreasi
  5. Kenali diri maka Anda akan “dibawa” menjadi orang hebat
, , , , ,

5 Responses to “Senyum Seorang Ibu Juru Parkir”

  1. fajar Says:

    senyum yang tulus…like this…^^

    [Reply]

  2. dewa Says:

    senyum ibunya mana y??

    [Reply]

  3. zen Says:

    fotonya menyusul :D

    [Reply]

  4. tata Says:

    wah,,,senyum mu,,ibu,,membuat aku hingga hari ini punya cita-cita dan bisa berlatih senyum sepertimu,,ibuqu=loV u MOM…

    [Reply]

  5. Cha_Cha Says:

    Tuhan akan mengabulkan apa yang kita butuhkan, bukan mengabulkan apa yang kita inginkan.

    aku suka kata-kata ini
    like this

    [Reply]

Leave a Reply

Premium Wordpress Themes