Mbak, saya mau curhat. Saya punya temen yang membuat saya merasa gak nyaman di kelas. Saya gak pernah berniat membenci dia. Tapi sifatnya yang kadang sok ngatur plus sombong sama apa yang dia punya, membuat saya risih sendiri sama dia. Padahal dulu kita sempat dekat. Nah, yang mau saya tanyakan, bagaimana caranya mengurangi rasa risih ini? Soalnya mau gak mau kita selalu jadi 1 kelompok dalam diskusi kelas. Saya gak mau nilai saya turun cuma gara-gara tidak nyaman belajar di kelas. Terima kasih mbak buat sarannya.^^
(Eya- Yogya)
Halo Mbak Eya….
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti akan menghadapi berbagai macam orang dengan karakter yang berbeda-beda. Karakter tersebut ada yang sesuai dengan apa yang kita harapkan namun tidak sedikit juga tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Teman yang mempunyai “banyak tingkah” memang terkadang membuat energi terkuras. Di satu sisi kita tidak ingin memikirkannya namun di sisi lain mau tidak mau kita akan sering melihatnya. Kondisi seperti ini membuat Mbak Eya menjadi semakin risih dengan teman tersebut.
Kedekatan yang dulu pernah Mbak Eya bangun dengan teman tersebut sebenarnya bisa dijadikan bekal untuk menjalin kembali komunikasi dari hati ke hati. Seperti orang bijak mengatakan, “Teman sejati adalah seseorang yang tidak selalu sejalan dengan kamu”. Saat Mbak Eya merasa bahwa tindakan teman tersebut kurang berkenan maka Mbak Eya bisa mengkomunikasinya secara jujur dan terbuka (asertif). Berikan masukan pada waktu yang tepat karena bisa jadi teman tersebut tidak mengerti bahwa perilakunya kurang berkenan bagi orang lain.
Namun yang perlu diingat bahwa saling memaksa orang lain agar berperilaku seperti yang kita inginkan bisa menimbulkan rasa saling tidak menyukai, bahkan bisa menjadi konflik. Itulah sebabnya setiap orang cenderung berkelompok dengan orang-orang yang memiliki karakter sama. Jangan terlalu banyak berharap bahwa orang lain akan memahami apa yang Mbak Eya inginkan, karena apabila tidak sesuai dengan apa yang Mbak Eya harapkan akibatnya Mbak Eya sendirilah yang kecewa. Apabila Mbak Eya tidak mampu mengubah lingkungan (teman tersebut) maka satu-satunya cara yang bisa dilakukan Mbak Eya saat ini yaitu fokus pada diri sendiri. Kesediaan Mbak Eya untuk menerima bahwa setiap individu itu unik dengan karakter yang berbeda-beda akan jauh membuat beban yang ada di hati menjadi lebih ringan. Disamping mempunyai kekurangan, tentulah teman tersebut juga mempunyai kelebihan. Jangan sampai karena kekurangan teman tersebut membuat Mbak Eya kehabisan energi untuk memikirkannya sehingga berpengaruh negatif pada prestasi akademik di kampus. Memang diperlukan waktu belajar dan kesabaran dalam menghadapi kondisi seperti ini, tapi tidak ada salahnya Mbak Eya bisa segera mencobanya….
Novriana Dyah Puspitasari, M.Psi, Psikolog
(Pengasuh Rubrik Senyum Care)
Bagi sahabat Senyum lainnya yang ingin curhat, silakan mengirimkan curhatannya via e-mail dengan subject: Senyum Care, ke: redaksi@senyumkita.com J (Redaksi)
Related posts:











June 4, 2010 at 1:51 pm
setuju mba…butuh kesabaran dan “ketelatenan”
[Reply]
August 17, 2010 at 9:26 pm
Setuju banget, kita ga bisa memaksakan orang lain sesuai yg kita inginkan. yg bs kita lakukan adalah selalu berpikiran positif. jika kita sudah tidak tahan, ya dihindari aja, namun dengan cara2 yang tidak menyakitkan hati orang lain.
salam
[Reply]