Belajar Dari atau Kepada Alam
Sahabat senyum,
Ada hitam ada putih, ada benar ada salah. Kita sebagai manusia tentu juga mempunyai kelebihan dan kekurangan. Dua hal ini kadang membawa kita dalam pilihan kondisi dan suasana yang optimis atau pesimis.
Ada peribahasa bahwa “manusia adalah tempat salah dan lupa”. Terlepas dari beberapa teori yang tidak sependapat dengan sugesti pesimistis, namun peribahasa tersebut tak dapat dipungkiri telah menjadi sifat dasar kita. Hal ini tentu saja menjadi tantangan (bukan rintangan) bagi kita. Tantangan tercipta untuk di-manage atau dikelola sehingga tak menjadi penghambat kesuksesan kita dikemudian hari. Jalan keluar terbaik bagi kita agar dapat menguasai manajemen dengan baik adalah senantiasa dengan belajar dan belajar.
Tanda dari alam
Sahabat senyum,
Telah nyata bahwa kehidupan didunia ada karena adanya perpaduan serasi dari alam. Kita dapat terlahir di bumi ini juga karena harmonisasi komponen-komponen yang berada di alam. Komponen-komponen harmonis tersebut antara lain : waktu, tempat, air, api, tanah, panas, dingin, solid, cair, gas, serta istilah-istilah lain yang tak akan jauh dari kebutuhan jiwa raga manusia.
Alam telah berikan ribuan tanda agar manusia sadar dan selalu mencari kebaikan serta ketepatan. Sadar dalam artian, kita mampu memahami bahwa masih banyak rahasia yang terdapat di alam. Rahasia-rahasia tersebut adalah jalan keluar bagi setiap tantangan diatas. Kita tentu ingat bahwa cara terampuh untuk memecahkan rahasia adalah dengan belajar dan belajar. Dua kata yang diulang ini (belajar), dimaksudkan bahwa faktor semangat harus selalu terikat dalam proses tersebut.
Alam juga berikan kesempatan atau peluang bagi kita agar dapat menyelaraskan antara kebaikan dengan ketepatan. Dalam peribahasa jawa kita ingat antara kata “bener” (baik) dan “pener” (tepat). Baik adalah suatu hal atau perbuatan yang dapat mengambil input positif, melakukan proses dengan positif, serta menghasilkan output yang positif pula.
Tepat, dapat kita tafsirkan sebagai penempatan sesuatu hal yang baik tersebut sesuai dengan komponen-komponen alam di atas.
Banyak kita temui sikap, perbuatan, kebiasaan yang “bener” tapi tidak “pener” dan sebaliknya. Hal ini akan berimbas pada kebersinambungan kesadaran kita untuk selalu belajar kepada atau dari alam. Sebagai contoh Si “X” sadar bahwa dirinya punya bakat menyanyi, sehingga ia terus belajar dan berlatih vokal. Namun ia melakukan itu hingga malam hari disaat tetangga kos sedang membutuhkan istirahat atau tidur. Belajar dan berlatih adalah “bener”, namun mengganggu orang lain itu tidak “pener”.
Kasus seperti ini bila diacuhkan akan berimbas pada oportunisme atau keangkuhan diri. Si X akan senantiasa terpacu untuk memperoleh prestasi dengan jalan apapun.
Alam kan jawab apapun itu.
Sahabat senyum,
Itulah alam. Ia akan selalu berikan jawaban dari setiap pertanyaan kita. Dengan syarat kita sadar akan tanda mendasar dari alam itu sendiri.
Jawaban dari alam itulah yang akan mengantarkan kita kepada kesuksesan.
Tak ada soal atau pertanyaan yang kunci jawabannya tak terdapat di alam. Syahdan bila ada yang berkoar bahwa jawaban dari alam berbatas, itu hanya karena ia berputus asa, kurang mampu mempertahankan kesadarannya untuk belajar dan belajar.









March 1st, 2010 → 9:13 pm @ fajar
0