Belajar kepada Alam; (episode : SEMUT)

March 6th, 201010:15 am @ fajar

0


Belajar kepada Alam;

episode : SEMUT

Featuring Mr. Cut-up (MC)

Hai sobat senyum, perkenalkan gue MC … oke lam kenal yaw


Sahabat senyum,

Belajar kepada alam kali ini menyuguhkan tema yang sungguh menarik. Kita akan belajar kepada keteladanan seekor hewan kecil yang sangat akrab di mata kita. Hewan tersebut adalah semut.

MC “what? Semud? “

Ya, semut.

MC “kaye lagu daerah donk… injit injit semut…”

(tertawa) kamu benar Kang. Itu lagu daerah dari Jambi

Di era modern dan keterbukaan seperti sekarang ini, manusia semakin dirajai oleh egonya masing-masing. Rasa pengorbanan yang dahulu kala telah dipraktekkan oleh Gadjah Mada, berhasil menyatukan nusantara hingga meluas sampai Filiphina dan Malaysia. Hari ini terasa lunturlah rasa yang dahsyat itu.

Individualisme ternyata telah menodai harapan leluhur kita agar dunia ini hijau (damai) dalam kebersamaan. Isme yang satu ini banyak kita saksikan dalam banyak kisah nyata baik di dalam maupun di luar negeri. Misalnya pembalakan hutan liar. Demi untuk mendapatkan penghasilan melimpah, banyak nyawa telah digadaikan dengan rusaknya keseimbangan ekosistem.

MC “lah semudnya mana?”

Ok,ok.

Sahabat senyum,

Semut, mungil tapi mulia. Hewan kecil ini bila kita pandang dengan kacamata moral ternyata memiliki banyak keteladan dalam setiap aktivitasnya. Satu poin yang memang sangat menonjol adalah cara mereka berkorban demi kepentingan semut lain dalam koloninya.

Semut ternyata mempunyai tugas masing-masing. Seperti halnya semut pencari makan, dia akan mencari sumber makanan. Mari kita baca referensi ini,1

… Semut penjelajah pertama yang menemukan sumber makanan mengisi temboloknya dan pulang. Selagi pulang, ia menyeret perutnya di tanah tiap berapa jenak dan meninggalkan isyarat kimiawi. Namun, ajakan ini tidak berakhir di sini. Ia mengitari bukit semut beberapa kali sejenak. Ia melakukannya sekitar tiga hingga enam belas kali. Gerakan ini me-mastikan adanya hubungan dengan teman-teman sesarang. Ketika si penjelajah ingin kembali ke sumber makanan, semua teman yang telah ditemuinya ingin mengikutinya. Namun, hanya teman yang berada dalam kontak antena terdekat dapat menemaninya keluar. Saat mencapai makanan, semut pencari langsung kembali ke bukit dan mengambil peran sebagai tuan rumah. Semut pencari dan teman-teman pekerja lainnya saling terhubung melalui isyarat indra terus-menerus dan melalui hormon feromon pada permukaan tubuh mereka.

Semut dapat mencapai sasaran dengan mengikuti jejak ke makanan, meskipun tak ada lagi semut yang mengajak. Berkat adanya jejak yang dibuat penjelajah dari makanan ke sarang, saat penjelajah tiba di sarang dan melakukan “tarian batu”, teman-teman sarangnya mencapai sumber makanan tanpa bantuan dari si pengajak.

Sisi lain yang menarik dari semut adalah banyaknya produksi se-nyawa kimia yang digunakan dalam proses ajakan, masing-masing dengan fungsi berbeda. Tidak diketahui mengapa begitu banyak zat ki-mia yang digunakan agar mereka bisa berkumpul di sekeliling sumber makanan. Tetapi, sejauh yang teramati, keanekaragaman zat kimia tersebut memastikan setiap jejak itu berbeda-beda. Selain itu, semut me-nyampaikan isyarat berbeda-beda saat mengirim pesan, dan intensitas setiap isyarat pun berbeda-beda. Mereka meningkatkan intensitas isyarat ketika koloni lapar atau ketika diperlukan daerah sarang yang baru…

MC “wuizzz mantabz tuh, gue juga pernah punya pengalaman yang sama”

Sama? Memangnya Kang Guyu semut?

MC “bukan! gue kadal !”… “ceritanye, gue mo berangkat ke nikahan temen. Nah, pas itu gue bingung mo pake batik ijo apa cokelat, tapi gue inget klo cewex disana lg pada demen ngliatin warna cokelat. Gue pilih deh warna cokelat.

Nah pas mo gue pake, dateng temen gue. Die mo pinjem batik juga ternyata, tapi die cuma punya celana cokelat gelap. Ga matching dunkz sama batik ijo. Akhirnya gue ikhlasin tuh batik cokelat. Yang penting kite bisa berangkat bareng gitooo.”

Loh Kang mana yang sama dengan keteladanan semut itu?

MC “sumber makannya dunkz”

Ha? (bingung)

MC “ah lola amat seh. Ya klo ada nikahan berarti ada sumber makanan bergizi”


Sahabat senyum,

Itulah sekelumit fakta tentang kegiatan hewan kecil bernama semut. Sebagai kesimpulan episode ini adalah penting rasa pengorbanan di antara kita.

Demi mengejar kesuksesan kita, bukan berarti harus mengorbankan kepentingan orang lain. Justru lebih mulia jika kita tetap dapat mengedepankan kepentingan umum daripada terlalu menggebu dengan ambisi kita yang belum tentu datangkan kebahagiaan yang hakiki. Dengan catatan, kita juga harus tetap optimis untuk menjalani alternatif lain, sehingga tidak ada kata menyerah dari bibir kalbu kita.

Setiap diri kita dilahirkan kreatif. Hanya mereka yang berhati kecil yang mudah berputus asa. Jadi ayo, kita pasti bisa!

referensi :

1. www.harunyahya.com

Tags:  ,