Tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang bercita-cita menjadi pengemis, gelandangan, atau orang miskin. Orang miskin sering dianggap rendah, tidak berpendidikan, dan arogan. Pandangan seperti ini membuat mereka jarang dilibatkan dalam beberapa kegiatan atau forum. Seperti yang ditulis dalam buku ‘Orang Kaya di Negeri Miskin’, berbagai kondisi kemiskinan terjadi di Indonesia. Kelaparan, kekurangan pangan, pengangguran, penggusuran tanah, tidak adanya kebebasan sipil, mahalnya pelayanan publik dan pendidikan, itu semua adalah bentuk-bentuk kemiskinan yang menciptakan penderitaan rakyat Indonesia. Dengan kata lain, orang menjadi miskin bukan semata-mata akibat kurangnya kemampuan yang ada pada dirinya, melainkan juga kurangnya kesempatan. Karena itu, cara sederhana untuk menghilangkan kemiskinan adalah dengan memberi “kesempatan” kepada orang miskin.
Mengapa kita harus bertindak?
Terdapat alasan pragmatis dan alasan idealis mengenai hal ini. Donal Dorr, penulis buku ‘Spiritually and Justice’, menjelaskan alasan pragmatis yang pokok adalah kesadaran bahwa sistem-sistem sosial kita saat ini dibayang-bayangi banyak ketegangan, di antaranya:
1. Hutang negara-negara miskin dari negara-negara berkuasa di dunia telah mencapai titik di mana tatanan ekonomis dunia berada dalam bahaya keruntuhan, prosentase pengangguran di seluruh dunia telah menambah ketegangan itu.
2. Sistem-sistem politik telah menyebabkan semakin banyaknya orang terasingkan dan tak berdaya.
3. Kompetisi antar kekuasaan yang lebih besar telah menimbulkan perlombaan senjata yang mengancam punahnya manusia dari muka bumi.
Dengan alasan pragmatis seperti ini, diharapkan mendorong berbagai oraganisasi bergerak memulihkan keadaan dengan memperbaiki sistem yang ada atau menciptkana sistem alternatif
Argumen idealis untuk berpihak pada kaum miskin bersumber pada ajaran moral, baik dari nilai agama maupun budaya. Apapun alasan kita untuk berpihak pada kaum miskin, hal tersebut didukung oleh banyak sekali penelitian psikologi yang menunjukkan betapa besarnya manfaat dari dukungan sosial bagi penderita sakit, cacat, stres, perkembangan remaja, dan lain sebagainya.
Bagaimana mendukung mereka?
Dukungan sosial dapat dilakukan dengan berbagai cara. Secara umum, dukungan sosial dapat berupa:
1. Dukungan Emosi
Manusia mempunyai kecenderungan untuk bersifat egoistik. Lebih mementingkan diri sendiri dan mengabaikan kepentingan orang lain. Banyak contoh nyata egoistik yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Bisa jadi, kita telah melakukan praktik-praktik egoistik tersebut secara sadar ataupun tidak. Untuk mengantisipasi sifat egoistik yang ada pada diri kita diperlukan suatu ikhtiar atau usaha, yaitu dengan menumbuhkan empati. Empati merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam interaksi antar pribadi. Dengan empati, kita bisa saling memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Berempati dan peduli juga merupakan bentuk dukungan emosi terhadap kaum miskin. Dengan melibatkan empati dan peduli, dapat memberikan perasaan nyaman sehingga seseorang dapat merasa lebih baik, lebih percaya diri, merasa dimiliki, dicintai, dan dihargai. Lebih jauh, dukungan emosi seperti ini menumbuhkan kehangatan dan kasih sayang.
2. Penghargaan
Dukungan ini dititikberatkan pada penilaian positif terhadap apa yang telah dilakukan, dapat dilakukan dengan pernyataan setuju terhadap ide-ide, perasaan, dan perilaku individu. Salah satu cermin dari kedewasaan, kebijaksanaan dari seseorang adalah bisa menerima pendapat atau pandangan orang lain, dan tidak memaksakan kehendak.
3. Instrumental
Dukungan ini berupa bantuan yang bersifat nyata dan langsung, seperti pinjaman atau hibah uang, makanan, bantuan tenaga, pelatihan keterampilan dan lain-lain.
4. Informasional
Nasihat, saran, pengarahan, atau umpan balik tentang apa yang telah dikerjakan seseorang merupakan bentuk dari dukungan informasional.
5. Jejaring sosial
Ingatan kita tentu masih segar dengan kasus Prita versus RS Omni serta Chandra-Bibit versus Polri. Gerakan-gerakan yang digalang lewat jejaring sosial ternyata ikut menentukan dalam perkembangan kasus mereka. Salah satu kekuatan dari jejaring sosial ini adalah makin cepatnya suatu informasi, ide, atau rencana didistribusikan kepada seluruh anggota jejaring, sehingga dapat menggalang suatu gerakan atau aktivitas dalam waktu singkat. Dukungan ini disebut juga dukungan persahabatan. Diberikan dengan cara membuat kondisi agar seseorang merasa menjadi bagian dari suatu kelompok yang memiliki persamaan minat dan aktivitas sosial.
Sekecil apapun bentuk dukungan yang bisa kita berikan kepada saudara-saudara kita yang masih berada di bawah garis kemiskinan, berarti kita telah berusaha untuk membuat dunia ini lebih ceria. Mari kita mulai sejak saat ini, selagi masih diberi nafas oleh Sang Khaliq. Kalau bukan kita, siapa lagi?
(Dyan Sulistyaningsih)
Related posts:











April 23, 2010
Senyum Inspirasi