Berawal dari keprihatinan, Entrepreneur Campus mengajak generasi muda mengubah paradigma, berani berwirausaha!
Tidak sulit menemukan kantornya. Ruangan berpendingin udara tersebut berada di lantai satu unit tiga, gedung kampus Amikom Yogyakarta. Di salah satu meja, terdapat beberapa kartu nama dan brosur berjajar. Rupanya kartu nama dan brosur itu adalah brosur usaha. Tak jauh dari meja, ada satu termos pendingin berisi yogurt berbagai rasa, dengan kemasan kantung plastik, mirip es lilin.
Ya, ruangan tersebut adalah kantor Entrepreneur Campus (EC), tempat mendidik calon pengusaha. Meski namanya memakai embel-embel ‘campus’, namun EC bukanlah seperti kampus-kampus pada umumnya. Membidik segmen mahasiswa, EC yang menawarkan pelatihan kewirausahaan oleh para pengusaha Jogja ini berlangsung setiap Sabtu pukul 13.00 sampai 16.00. Tidak hanya di kelas, kuliah yang berdurasi dua bulan ini juga berisi kegiatan-kegiatan outdoor. “Setidaknya tiga kali dalam satu angkatan, kami mengajak para peserta berkegiatan di luar, seperti game bisnis dan kunjungan bisnis,” jelas Desi, officer EC.
Hal lain yang membedakan EC dengan kampus pada umumnya adalah materi yang disampaikan. Seperti namanya, EC tidak hanya mengajarkan teori, melainkan juga bagaimana menjadi seorang pengusaha. Dengan demikian, peserta atau mahasiswa dianggap berhasil bukan karena mendapatkan nilai bagus, tapi karena berhasil berwirausaha. Tidak ada istilah wisuda di EC. Wisuda adalah saat peserta lulus dan membuka usaha, saat itu biasanya mengundang para pengajar dan alumni. “Saat kumpul-kumpul itulah acara wisudanya, jadi kami memberi selamat, sekaligus berbagi saran tentang usaha barunya alumni tersebut,” jelas Desi.
Kampus unik ini berawal dari keprihatinan Ferry, pendiri EC. Ferry prihatin dengan banyaknya lulusan perguruan tinggi yang hanya bisa mencari kerja, namun tidak berani membuka usaha mereka sendiri. Bagi EC, mendirikan usaha sendiri adalah lebih baik, karena selain bermanfaat bagi diri sendiri, juga dapat membuka peluang atau kesempatan kerja bagi yang lain pula. “Padahal lulusan PT (perguruan tinggi) kan punya bekal ilmu pengetahuan yang cukup, maka seharusnya mereka bisa buka usaha senidiri,” alasan Ferry seperti ditirukan Desi. Untuk itulah Ferry berniat mendirikan lembaga pelatihan yang menanamkan nilai-nilai entrepreneurship, yang membekali pesertanya dengan skill dan pengetahuan untuk berwirausaha.
Akhirnya, usaha yang dirintis Ferry tidak sia-sia, EC yang mempunyai setidaknya 23 angkatan ini telah berhasil mencetak banyak pengusaha. Agar lebih memotivasi peserta atau alumni yang lain, kisah-kisah sukses tersebut ditampilkan dalam website EC, yakni www.bukausaha.com. Selain itu, lebih dari 300 alumni EC tetap bisa menjalin hubungan dan berkonsultasi bisnis, baik sesama alumni, maupun pengajar. Salah satu kisah sukses adalah Fikri. Fikri telah berhasil membuka 5 cabang Total English, tempat kursus bahasa Inggris. Selain Fikri, ada juga Ilham yang berhasil membuka Kido, tempat belajar bahasa Inggris anak-anak.
“Dengan mengikuti EC, aku mendapat pengalaman yang nggak akan didapat di tempat lain. Selain ketemu langsung para entrepreneur sukses, kita juga bisa saling berbagi info dengan para peserta. Setelah lulus, kita para alumni sering kumpul bareng baik di acara formal maupun nonformal, jadi masih bisa terus berbagi pengalaman, dan ilmu terus terasah, tidak hilang begitu saja,” aku Vebrian, alumni EC yang juga mahasiswa UGM 2006.
Mendirikan tempat pelatihan wirausaha, sebenarnya juga merupakan sebuah usaha. Lalu, bagaimana dengan kita? Siapkah menjadi pengusaha? Atau hanya ingin mencari kerja?
(Yuwan Y.R.)
Related posts:












April 23, 2010
Senyum Sahabat