Senyum nan Setia pada Tenongan

March 28, 2010

Senyum Sahabat

Sebuah profesi yang menjanjikan dari segi ekonomi, tentu diharapkan banyak orang. Akan tetapi, dambaan itu tak dapat dimiliki oleh setiap orang.

Tenongan, mungkin tak banyak orang yang mengenal istilah tersebut. Namun, bagi ibu yang satu ini, tenongan merupakan hal yang biasa dalam kesehariannya. Ya, ibu bernama Sukiyem. Ia adalah penjual makanan tenongan. Dia menjajakan makanan kecil dan jajanan pasar dengan berkeliling Kota Yogyakarta. Tepatnya di sekitar Jalan KH Ahmad Dahlan (sekitar barat RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta) sampai sekitar daerah Wirobrajan. Ia tempuh “rute panjang” tersebut dengan berjalan kaki. Ibu Sukiyem ini menjajakan makanan kecil produk dari Trubus. Sebagai informasi, Trubus adalah pabrik pembuat makanan-makanan kecil milik pengusaha Cina, yang bermarkas di daerah Jalan Poncowinatan. Semula Trubus ini menerima catering, namun beberapa tahun terakhir memproduksi untuk tenongan saja.

Profesi ini menuntut ketekunan dari para pelakunya. Ibu Sukiyem berangkat kerja sekitar pukul 06.00 pagi, dengan naik bus atau diantar oleh salah satu anggota keluarganya. Beliau menempuh sekitar 27 km untuk sampai di pabrik Trubus. Setelah dari Trubus, beliau menuju ke tempat biasa berkeliling. Sedangkan jam pulangnya belum tentu, tergantung habis dan tidaknya makanan yang dijajakannya. “Terkadang bisa sampai isya’, mbak,” jelas ibu bertubuh mungil ini.

Beliau termasuk sosok yang berdedikasi pada pekerjaan. Ibu dari 5 anak ini menjadi pedagang keliling tenongan sejak tahun 1978, sebelum beliau menikah. Dan sampai saat ini, beliau masih setia dengan pekerjaan tersebut. Beliau mengaku, sampai saat ini belum ada keinginan untuk beralih profesi. “Ya selama pabrik Trubus masih buka, saya ndak mau ganti pekerjaan. Nanti juga malah susah cari kerja lain,” begitu jawabnya sambil tersenyum.

Ibu lulusan Sekolah Dasar ini mengaku mendapat penghasilan sekitar Rp 25.000,- per hari. Untuk zaman sekarang, nominal tersebut nampak kecil. Namun, dengan penghasilan sebesar itu, Ibu Sukiyem mampu menyekolahkan 5 anaknya. Anaknya yang keempat pun sekarang sedang melanjutkan studi di salah satu universitas negeri di Yogyakarta.

Ibu Sukiyem mengaku senang jika dagangannya bisa habis. Namun, nampaknya beliau tidak begitu bersahabat dengan musim hujan. Musim hujan menghambat pekerjaannya yang menuntutnya untuk berkeliling menjajakan dagangan. “Kalau hujan itu mbak, saya susah kelilingnya. Nanti dagangan juga sulit lakunya. Makanya, kalau saya mending panas, yang penting laku,” lanjut beliau.

Ibu Sukiyem yang sekarang berusia 49 tahun ini memiliki banyak langganan. Dengan sosoknya yang bersahaja, ramah, dan lucu, tentu beliau mudah meraih konsumen. Bahkan, beberapa pelanggan sudah menganggap beliau seperti saudara sendiri. “Itulah mbak salah satu alasan saya senang dengan pekerjaan ini. Bisa nambah saudara,” tutup beliau.

Memang, apapun profesi yang kita miliki, merupakan kewajiban yang harus dijalani. Kesuksesannya tergantung pada diri kita yang menjalaninya secara ikhlas atau tidak. Seperti yang dapat kita lihat pada sosok Ibu Sukiyem ini. Beliau menjalani profesi penjaja makanan tenongan dengan senyum dan setia, hingga beban tak dirasakannya.

(Galuh Indah B.)

No related posts.

, , , , , , , ,

Subscribe

Subscribe to our e-mail newsletter to receive updates.

5 Responses to “Senyum nan Setia pada Tenongan”

  1. faruq Says:

    kalau jualan tenongan di kampus, laku kagak ya? :D

    [Reply]

  2. Gugus Says:

    jadi ingat waktu masih kecil dulu
    suka beli lumpia sama es lilin kacang ijo
    yummy … :)

    [Reply]

  3. rianpi Says:

    ketoke ncen sumber e neng poncowinatan,,,
    aku biyen tau njajal tuku,,,hahahah

    [Reply]

  4. Sholic Says:

    Wah… tenongan kana tergolong jajanan pasar yha… sekarang agak sulit didapat tak kayak dulu lagi… padahal cita rasanya gan…. siip-

    [Reply]

Leave a Reply

Premium Wordpress Themes