Orang bilang, buku adalah jendela dunia. Membaca beragam buku membuat kita mengerti banyak hal. Jika Anda gemar membaca buku di perpustakaan tapi terkendala jam berkunjung, Cakruk Pintar adalah tempat yang tepat untuk Anda. Pasalnya, perpustakaan ini buka 24 jam NON STOP!
Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di kawasan Nologaten, Catur Tunggal, Depok, Sleman ini tidak hanya berfungsi sebagai taman baca, tetapi juga bisa dikategorikan sebagai sanggar belajar. Tempat ini sering digunakan sebagai tempat belajar bagi warga, baik anak-anak maupun orang tua.
“Biasanya anak-anak belajar sekitar pukul 4 sore, mereka mengerjakan PR dan belajar kelompok. Kebanyakan merupakan siswa-siswi Sekolah Dasar. Sementara itu, kalangan anak SMP/SMA kebanyakan sebatas meminjam buku untuk mengerjakan tugas di rumah,” papar Siti Solechah, sekretaris TBM Cakruk Pintar yang berhasil kami temui, Selasa (6/4). Dulunya, kegiatan belajar anak-anak ini dibantu oleh para mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga dari Fakultas Dakwah. Akan tetapi, saat ini tinggal beberapa tentor dari masyarakat sekitar yang ingin menyumbangkan ilmunya. Bagaimanapun, anak-anak tetap senang belajar di sini. Selain belajar, anak-anak juga diajak memainkan permainan tradisional seperti gobak sodor, bola bekel, dan dakon. “Tak hanya ditujukan untuk anak-anak, Cakruk Pintar juga sering digunakan ibu-ibu dan bapak-bapak untuk pelatihan memasak, menjahit, menyulam, dan berbagai keterampilan home industry lainnya. Kegiatan ini rutin, Mbak. Dalam seminggu bisa sampai dua kali. Kalau di Cakruk, setiap hari Sabtu dan Ahad,” imbuh perempuan asal Banjarnegara ini.
Mengingat informasi yang terus datang silih berganti, pengadaan buku baru masih terus dilakukan demi perkembangan Cakruk serta menambah pengetahuan baru untuk masyarakat. Agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat, pengadaaan buku untuk dua tahun terakhir ini berbeda dari biasanya. Masyarakat diajak ikut ke toko buku untuk memilih langsung buku yang mereka butuhkan. Cakruk mengajak anak-anak TPA, remaja, ibu-ibu dan bapak-bapak agar buku yang dipilih juga beragam sesuai usia pembacanya. “Anak-anak lebih suka memilih novel, cerita pendek, dan buku pelajaran. Kalau ibu-ibu atau bapak-bapak, lebih tertarik pada buku-buku yang mengajarkan life skill, termasuk keterampilan dan buku tentang pertanian dan perkebunan,”lanjutnya.
Tahun lalu, TBM pimpinan Muhsin Kalida ini menghabiskan dana sekitar 12,5 juta rupiah untuk pengadaan buku. Dana diperoleh dari Dinas Pendidikan dan sumbangan dari masyarakat (relawan) setempat. Agar buku-buku yang sudah ada tidak terasa usang, diadakan rolling. Memang, Cakruk Pintar memiliki banyak cabang. Setelah buku A selesai digunakan di masyakarat setempat, akan dirolling ke cabang Cakruk yang lain, Ambarukmo, misalnya.
Bicara perihal pengunjung, tiap harinya rata-rata 10 sampai 20 orang yang datang untuk meminjam maupun sekedar membaca di Cakruk Pintar. “Biasanya jam 9 pagi, ibu-ibu yang paling banyak datang untuk membaca sambil mengasuh anak mereka. Sehabis dzuhur, baru mulai muncul remaja dan anak-anak. Sore hari digunakan untuk belajar anak-anak. Malam hari lebih banyak diisi oleh bapak- bapak yang ikut ronda malam,” papar wanita kelahiran 19 Mei 1983 ini.
Ditanya mengenai suka duka selama di Cakruk Pintar, Siti mengungkapkan bahwa ia belum pernah merasakan duka di Cakruk. Semua rutinitas di Cakruk ia jalani dengan gembira. “Memang, kadang ada yang suka telat mengembalikan buku, tapi itu tidak menjadi masalah besar bagi Cakruk. Untuk mengatasi hal itu, biasanya kalau ada yang telat mengembalikan akan segera di-SMS atau ditelpon dan menginformasikan bahwa bukunya akan dipakai orang lain. Alhasil, buku segera dikembalikan ke Cakruk,” ujarnya.
Harapan untuk Cakruk
Lebih lanjut Siti berharap, agar ke depannya Cakruk Pintar ini bisa lebih diakses masyarakat luas, tak hanya warga sekitar Cakruk saja. “Harapan saya, agar Cakruk lebih bisa diakses masyarakat secara umum, tidak hanya warga Catur Tunggal saja,” ungkapnya. Hal senada juga diungkapkan oleh Agung, pemuda sekitar Cakruk. Ia berkomentar, “Cakruk itu tempatnya asyik, bisa buat nongkrong sekaligus belajar. Harapannya, moga aja Cakruk bisa dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat, dari semua usia dan kalangan, tidak hanya dari daerah Nologaten saja.”
***
Sejarah Sekilas PKBM Suka Catur Tunggal
PKBM merupakan kepanjangan dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. PKBM Suka berdiri pada tahun 2003 di bawah naungan PSB Diponegoro bekerja sama dengan mahasiswa jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga. Akan tetapi tahun 2004 PKBM Suka berubah nama menjadi PKBM Suka Catur Tunggal yang diprakarsai oleh mahasiswa jurusan PMI berkolaborasi dengan pemuda desa Catur Tunggal. Dalam perkembangannya, pada tahun 2007 PKBM Suka Catur Tunggal berganti naungan di bawah Yayasan Yasuka, hingga saat ini telah membuat program TBM (Taman Baca Masyarakat).
(Dyan Sulistyaningsih)
Related posts:











May 1, 2010 at 9:20 pm
Wah, ada Cakruk Pintar Mas Muhsin disini
[Reply]
June 16, 2010 at 12:29 pm
Pengen tanya-tannya nich..untuk dapat bertemu dengan Bapak Muhsin Kalida selaku pimpinan TBM dimana ya??atau biasannya ada di TBM sekitar jam berapa? dan hari apa ja?…terimakasih
[Reply]
September 23, 2010 at 8:41 am
wow.. inspiratif people..
LIKE THIS..
[Reply]
beda Reply:
October 15th, 2010 at 2:15 am
keren…
[Reply]